Wisata Kerajaan Sumedang Larang. Siapa bilang Sumedang cuma punya Tahu yang asli nagihin banget!!! pengen mode on* … Karena Kota Sumedang juga punya banyak situs sejarah yang layak sangat untuk dikunjungi. Mengapa??? Tentunya karena Sumedang dulunya adalah sebuah Kerajaan Besar yang Pemimpin Pemimpinnya banyak menorehkan banyak prestasi untuk kemakmuran rakyatnya. Hebohnya lagi, peninggalan peninggalan kerajaan itu pun masih tertata rapi dalam sebuah museum yang di wakafkan … jadi ngga boleh ada perpindahan tangan terhadap barang tersebut. Ini juga merupakan salah satu bukti hebatnya pemimpin di Sumedang dalam menjaga sejarah kotanya.

kerajaan sumedang larang

Pada tahun 2010 kemarin, saya berkesempatan untuk berwisata ke Sumedang … hahaha udah pasti tujuan pertama ada Tahu Bungkeng. Namun setelah itu mulailah saya bergerilya bertanya tinyi tentang wisata di Sumedang pada pihak hotel yang kuinapi

Museum Prabu Geusan Kerajaan Sumedang Larang

tampak depan museum – dulu juga menjadi area tempat tinggal bupati di masa kolonial belanda

Waaah ternyata dekat hotel menginap, dekat sekali … terdapat museum yang menceritakan tentang jejak sejarah Sumedang. Ternyata dulunya, kota kecil yang di Jepit Bandung dan Garut ini dulunya adalah sebuah kerajaan besar bernama Sumedang Larang. Disebut sebut ia menguasai hampir seluruh daerah Jawa Barat  bahkan sampai ke Depok.

Yaa .. untuk cerita dari segede itu mengapa mengerucut jadi sepetak kota yang tak terlalu luas, ada kisahnya dibuku yang aku beli di museum tersebut … tapiiii kok ya panjang untuk dibaca hehehee … jadi lebih baik cerita tentang apa yang kulihat aja deh …

Jujur inilah pertama kalinya saya terpukau pada sebuah museum!!! Sungguh bagus sekali .. selain memiliki cerita dan sejarah yang lengkap dan detail, barang barang yang di pajang di museum semuanya asli dan nyaris lengkap utuh dan tidak rusak apalagi di makan rayap.

Wewww .. seperti benar benar sedang kembali ke masa lalu. Oya, yang bikin mata sumringah itu adalah ketika kita masuk ke sebuah ruangan yang mana di dalamnya terdapat barang barang berharga milik kerajaan. Mulai dari mahkota dan perhiasan emas milik kerajaan dan keris keris bersejarah yang digunakan oleh tokoh tokoh kerajaan, hingga peralatan peralatan makan yang terbuat dari perak dengan sentuhan desain eropa yang unik cantik.

ruangan yang dipenuhi benda berharga terbuat dari logam, mulai dari mahkota emas hingga keris kerajaan dan juga perlengkapan makan dari perak

Barang barang tersebut sungguh sangat mewah dan benar benar seperti yang ada di film film. Mahkotanya indah sekali … perhiasan perhiasan seperti yang diletakkan dilengan dll .. bener bener indah ukirannya …

Bagaimana ya kok bisa benda benda ini masih dalam keadaan kinclong dan terawat sekali??? Oooww ternyata setiap akan datang Hari Maulud Nabi Muhammad SAW, seluruh pusaka yang berjumlah 7.621 benda ini, disucikan. Breeewww saking banyaknya, untuk menyucikan dibutuhkan waktu 10 – 11 harian.

Oya, benda benda yang disucikan tersebut bukan hanya keris, gamelan dan benda benda logam lainnya, tapi juga termasuk kereta Kencana Naga Paksi yang mana kereta ini tidak ditarik oleh kuda, tapi oleh manusia. Katanya sih ini sebagai simbol bahwa pemimpin Sumedang Larang memang dipilih oleh rakyat dan dicinta rakyat. Bukan terpilih semata mata karena kekuasaan saja.

Yuuukk .. jika ke Kerajaan Sumedang Larang, pliiisss jangan dilupakan mampir ke Museum yang mengagumkan ini. Oya dimuseum ini juga kerap diadakan pelatihan pelatihan seni dan budaya. Ketika saya kesana, sempet ikutan juga nyobain belajar tarian khas daerah sana. Heheheee …

Cadas Pangeran Sumedang

Hm .. kalau ini sih sebetulnya bukan suatu tempat wisata yach, tapi suatu tempat yang menyimpan sejarah dan cerita betapa pemimpin Sumedang berani melawan perintah koloni Belanda demi kelangsungan hidup rakyatnya.

(huaaaa maaf sebetulnya di garis ini aku mau menampilkan foto lukisan pangeran dan daendels di cadas pangeran dimana pangeran menodongkan keris ke daendels -lukisan ini ada di dalam museum … tapiii apa daya fotonya ternyata tertinggal di komputer di rumah di banyumas … aduh maaf jadi ngga tertampil deh)

Siapa yang tak kenal Gubernur Jenderal William Daendels yang terkenal dengan proyek pembangunan kerja paksa jalan pos antara Anyer hingga Banyuwangi tersebut??? Dimana dalam pembangunan jalur tersebut ribuan nyawa penduduk pulau Jawa banyak bergelimpangan. Yaaa … Sumedang ternyata juga masuk dalam lintasan proyek tersebut dan medan yang harus dibangun tersebut adalah kawasan yang sekarang disebut cadas pangeran itu.

Doooeeenng!!! Melihat sudah jadinya aja kebayang medan yang sangat sulit yach, apalagi dulu waktu masih gunung gunung berundak dan harus dibuat menjadi jalanan yang rata begini .. hmmm pantas disini juga terdapat banyak rakyat jadi korban.

Hingga waktu yang ditentukan, ternyata jalanan tersebut belum selesai. Yaaaa tentu sangat susah untuk meratakan gunung cadas dengan peralatan yang seadanya. Kemudian Daendels datang memantau dan memerintahkan Pangeran Kusumadinata (Bupati saat itu) yang akhirnya sekarang dikenal sebagai Pangeran Kornel untuk mengerahkan rakyat lebih banyak lagi dan bekerja lebih keras lagi.

Namun Pangeran Kornel yang tak tega melihat rakyatnya menderita dan banyak menjadi korban keganasan gunung cadas tersebut, langsung memberikan perlawanan. Namun caranya halus, yaitu ketika Daendels menyodorkan tangan kanannya untuk mengajak bersalaman, Pangeran Kornel justru menyambutnya dengan tangan kiri dan tangan kanannya memegang keris Nagasastra (keris ini juga tersimpan utuh dan kinclong di museum prabu geusan).

Sikap Pangeran ini membuat Dandels marah awalnya. Namun dengan pembawaanya yang karismatik, Pangeran Kornel berhasil menjelaskan mengapa ia bersikap demikian dan Daendels pun berbalik sikap menjadi kagum pada sang Pangeran yang berani melawannya demi rakyatnya tersebut. Dandels pun kemudian memerintahkan pasukan zeni belanda untuk membantu pembangunan jalan tersebut dan akhirnya jadi pada 12 maret 1812 dan rakyat memberinya nama Cadas Pangeran. Kerajaan Sumedang Larang.

Peninggalan Instalasi Militer Hindia Belanda

Sumedang juga memiliki benteng benteng yang digunakan sebagai benteng pertahanan ketika pemerintahan Belanda. Benteng benteng tersebut adalah Benteng Gunung Gadung, Benteng Gunung Palasari, Benteng Gunung Kunci dan juga ada Bendung bernama Bendung Cipeles Ragadiem.


Weeeww  tapi karena keterbatasan waktu, saya ngga sempet kunjungi semua. Saya cuma datang di Benteng Gunung Kunci, yang lokasinya ngga terlalu jauh dari Hotel juga hehehe … strategis bener nih hotel …

Benteng Gunung Kunci ini dibuat sekitar tahun 1914 – 1917. Di bangun di atas lahan seluas 4,6 hektar di Bebedahan, kelurahan kota kulon, sebelah barat alun alun kota. Jaraknya sekitar 1 km dekat dengan pusat pemerintahan Kabupaten  Sumedang. Yup dari sini kita bisa melihat alun alun Sumedang dengan sangat jelas.

Oya .. kenapa dikasih nama Benteng Gunung Kunci??? Karena ada lambang kunci di pintu masuk benteng tersebut … hahahaa ini hanya asumsi saya .. untuk cerita dibalik kenapa ada lambang kunci saya juga ngga tahu heheee…

Yang jelas, masuk ke dalam benteng ini, saya sempet berdiri bulu kuduknya … wew bukan lantaran ada cerita seram, tapi karena saya takut gelap hahahaa … seperti halnya benteng benteng di kota lain di Indonesia, benteng ini memiliki suasana angker dari segi aroma dan bangunan yang runtuh bin kotor dan sesekali ada becek disana sini… aaaawwww!!!

Tapi cukup luas yach … setelah dihitung hitung (hahahahaaa padahal ya liat buku diktat) luas bangunan ini ternyata 2.600 meter persegi dan ditambah dengan gua dan bunker sekitar 450 meter persegi. Gede yach …. bangunan ini dilengkapi dengan kubah meriam dan senapan mesin.

Bersama penjaga museum yang kuculik untuk mengantar ke gunung kunci Kerajaan Sumedang Larang

Ceritanya nih, pada masa revolusi fisik dalam rangka mempertahankan kemerdekaan, benteng ini sempat diserang tentara belanda dengan menggunakan pesawat F15 Mustang. Canggih!!! Ngga ada korban loh .. cuma mungkin ini ada beberapa bangunan yang roboh, mungkin karena serangan tersebut yach .. ngga tahu juga .. pokoknya dalam benteng ini ada bagian yang hancur lebur tinggal pilar pilarnya ajah.

Oyaa … jalanan menuju ke Benteng ini, masih alami hutan gitu … dan dikasih jalur oleh pemerintah setempat sehingga kawasan ini banyak dijadikan warga untuk tempat lari pagi atau sore … yaaa segar udaranya …

Curug Sindulang Kerajaan Sumedang Larang

Terus terang aku kok agak lupa yach nama curug yang aku datangi itu .. tapi kayaknya bener namanya curug sindulang. Yang jelas lokasinya jauh banget dari hotel tempat aku menginap, sekitar 40menitan kali. Kayaknya itu juga udah nyaris keluar kota kalau ngga salah.

curug sindulang yang indah jika benar benar dikelola dengan baik

Sejujurnya, curug tersebut indah … tapi, sayang … sangat tidak terawat. Banyak gubuk gubuk usang nemplok di sudut sudut lokasi … hiks kata penduduk sih, itu adalah gubuk mesum … yaaa aku sih berharap aku dibohongi atas fakta tersebut … soalnya kasian banget tempat yang harusnya indah ini harus dikotori dengan gubuk mesum yang kalau mendingan dikelola sekalian jadi pondok pondok yang agak bagusan gitu yach .. jadi biar mau mesum juga ngga merusak pemandangan …

Terus … kekecewaan ke dua adalah tidak adanya kantin!!!! aje gileeeee kita kesini belum makan cuiiii .. lapaaaarrr!!! Abis dari Gunung Kunci kita langsung kemari karena mikir di tempat wisata pasti ada dong kantin meski kecil kecilan … Tapiiii Gile kantin mie instan aja ngga ada looohhhhh …. padahal di papan petunjuk ada tulisan kafetaria .. letaknya di ujung dunia di atas sono .. demi lapar yang melanda, kudaki batu batuan yang menanjak ke atas tersebut untuk sebuah nasi bungkus yang akan menghangatkan badan … ternyata setelah 20 menit berjuang naik keatas, TUTUP!!! Dong dong dong… ternyata kafetaria tersebut cuma buka saat ramai pengunjung saja hiks ..

Sambil tetap berusaha menikmati wisata ini … kuperhatikan sekeliling … ternyata disana ada taman bermain untuk anak anak .. tuh kan sebetulnya udah tertata rapi loh tempat wisata ini, sayang ngga dikelola dengan baik … soalnya tuh permainan anak anak juga udah pada karatan hiks … ya ampuuuuunnnn mbok ya tempat wisata negeriku yang indah ini dikelola lebih baik yach .. moga moga nanti kapan kalau kesana lagi, kondisinya udah lebih baik

perjalanan menuju ke benteng gunung kunci

Berakhirlah wisataku di Sumedang

Curug ini menjadi akhir dari perjalanan wisataku di Sumedang … karena selanjutnya yang terjadi hanyalah wisata kuliner hihiiii … lagi lagi mampir ke Tahu Bungkeng dan lalu makan di Rumah Makan Joglo yang keren abis … wooowww … nice Sumedang … rindu untuk kesini lagi menikmati makanan makanannya yang enaaaak …

Pantai Siung Gunung Kidul Yogyakarta. Bebatuan kapur umumnya tidak bisa disebut tinggi, bahkan tak sampai satu tali untuk menuntaskan jalur-jalurnya. Namun karena berdiri terpencar-pencar di bibir pantai menjadikannya karang yang sangat tajam serta licin, cukup membuat jemari perih hanya dalam waktu singkat dan yang terjelek angin pantai yang basah mudah menjadikan pengaman berkarat hingga membahayakan pemanjat bila tak berhati-hati.

Pantai Siung Gunung Kidul Yogyakarta


Memutuskan bepergian dengan angkutan umum di musim liburan sekolah rupanya menjadi keputusan yang merepotkan. Apalagi bila kita tidak merencanakannya dengan baik, membeli tiket jauh-jauh hari sebelumnya. Bisa ditebak, ditolak berbagai perusahaan otobis antar kota antar propinsi seakan menjadi awal yang buruk untuk memulai perjalanan panjang. Namun karena tak mungkin lagi mundur dan hitungan cuti sudah dimulai, mau tak mau cari pilihan yang ada. Semangat keterpaksaan  sepertinya menjadi pilihan yang mau tak mau mesti dilakukan.

Bus milik pemerintah itu tak bisa lagi dibilang muda, dengan cat terlihat kusam dan rontok di beberapa bagian tubuh rentanya, karatan di setiap sambungan dan sudutnya  serta kaca bolong dengan tambalan triplek di beberapa bagian seakan ingin mengatakan bila bus itu sepertinya tak layak lagi diberangkatkan apalagi dengan perjalanan jarak jauh yang akan kita tempuh. Jogja jack…. Jogja. Namun entah mengapa sang montir yang saya tanya saat menservisnya sesaat sebelum keberangkatan dengan begitu meyakinkan mengatakan bahwa bus DAMRI kebanggannya itu tak bisa dianggap remeh, dia bahkan berani menjamin perjalanan 12 jam ke depan pasti sampai di tujuan. Bodo deh yang penting nyampe, dalam hati.

Aman sih memang, tapi dengan tiket yang bisa dibilang sangat murah, 45 ribu rupiah, perjalanan Bogor-Jogja sepertinya menjadi malam yang sangat panjang dan melelahkan. Bayangkan saja, tubuh berkeringat kegerahan disaat macet, bocor di saat hujan dan pengap saat ada penumpang yang pura-pura bodoh dengan merokok di dalam bus, menjadikan perjalanan sebuah siksaan dibandingkan dengan rekreasi.

Namun semangat petualangan ternyata mengalahkan semuanya. Pagi-pagi saat matahari baru saja menghangatkan tanah, kami tiba di jogja dengan muka  hitam akibat debu, alhasil jerawat muda baru pun tumbuh mengiasi muka-muka lelah. Penyiksaan yang panjang itu tak juga berakhir, dengan menumpang bus trayek Wonosari yang juga murah sekitar 3000 rupiah, Jogja-wonosari ditempuh hanya sekitar 2 jam perjalanan kalo tidak salah ingat. Akhirnya Karena lelah yang amat sangat, kami menyewa sebuah mobil untuk mengantarkan ke tempat dimana rencana cuti saya bakal dihabiskan.

Pantai Siung Bikin Lupa Diri

Sepanjang perjalanan menuju pantai Siung sungguh membuat hati terhibur. Hamparan batuan kapur di kiri kanan jalan menyembul diantara pepohonan jati menjadi obat penghilang rasa lelah dan ngantuk akibat perjalanan yang menyiksa. Apalagi saat tiba di ujung jalan aspal hotmix itu, saya seperti terperangah saat melihat batuan kapur cokelat kemerahan berdiri beriringan, berjajar dan berundakan seperti menantang untuk ditaklukan. Seperti lupa akan penat, tak peduli lagi dengan makan siang, saya memutuskan membawa semua peralatan, dan sore itu 5 jalur sport di blok A langsung selesai dituntaskan tanpa banyak masalah. Padahal cape, ngantuk, lapar dan pegal sebelumnya menjadi penyakit kami selama di perjalanan.

Manjat, Makan, Tidur dan Manjat

Manjat, makan, tidur dan manjat lagi sepertinya hanya itu pekerjaan yang kami lakukan selama hampir satu minggu. Hanya pergi dari satu tebing ke tebing lain membuat sejumlah mahasiswa kehutanan UGM yang saat itu juga numpang tidur di rumah mbah Wasto tempat kami menginap keheranan.

Mereka sempat bertanya, bagaimana empat orang asal Bogor yang ngakunya sedang liburan ini tak pernah mencoba pergi ke tempat lain selain hanya manjat dari jalur ke jalur dan dari tebing-tebing yang berderetan di sepanjang pantai Siung saja. Ya… mungkin karena  memang tekad kami datang ke Siung hanya untuk menuntaskan jalur-jalur sport yang ada membuat kami (dengan sangat menyesal) mengacuhkan berbagai pilihan lokasi wisata yang mereka tawarkan. Padahal mereka sudah sangat baik lho menawarkan motornya untuk kami pinjam barang sebentar untuk sekedar bepergian keluar melihat pemandangan selain batu, batu dan batu.

Oh iya, Saat kami datang di pertengahan tahun 2006 (kalo tidak salah, maklum dah lama) di pantai Siung baru ada 60 jalur sport dengan tingkat kesulitan bervariasi. Namun  karena sejumlah jalur sangat sulit dituntaskan dengan tingkat kesulitan diatas 5.13 (jalur sangat sulit) dan diantaranya berdiri di tubir pantai menjadikan pengaman yang sudah terpasanag tak mungkin lagi digunakan. Makanya ga heran, hampir satu minggu disana kami hanya mampu menuntaskan 40 jalur saja. Dari  mulai tingkat kesulitan moderat (5.9) hingga kelas sulit (5.12) dari yang panjang lintasannya hanya 5 meter hingga 13 meteran.

Saat saya membuat tulisan ini, konon di Siung  sudah ada 120 jalur sport, dengan perbandingan satu minggu 40 jalur, berarti bila anda ingin menuntaskan semua jalur yang ada setidaknya ambilah cuti 3 minggu tanpa pergi dan melakukan aktivitas lain kecuali hanya untuk manjat, makan, tidur dan manjat. Dapatin tiket travel kamu di Traveloka ya.

Jalan menuju Tebing Pantai Siung

Tebing Siung masuk dalam wilayah DI Yogyakarta. Tepatnya di desa dusun dawet purwodadi  kecamatan tepus kabupaten gunung kidul atau sekitar 70 km tenggara kota Yogyakarta. untuk menjangkaunya sangat mudah. Pertama tentu kota Jogja menjadi persinggahan utama, kemudian terminal Wonosari menjadi tempat transit dan terakhir menyewa angkutan atau naek ojeg bisa menjadi pilihan. Yang penting sesuaikan dengan kantong dan barang bawaan anda. Dan yang paling penting di ingat, Jangan lupa untuk memesan angkutan penjemput pada hari kepulangan anda karena tidak selalu ada angkutan datang ke lokasi ini.

Untuk menginap anda bisa numpang di rumah Mbah Wasto. Rumah dibibir pantai ini juga memiliki warung sehingga untuk makan tak usah repot-repot masak, tinggal pesan saja menu yang anda mau setiap hari maka hidangan tersaji pada waktunya. Mungkin untuk sedikit menghemat waktu, sebaiknya anda makan siang di kaki tebing saja dengan membawa kompor untuk memasak sehingga anda tak perlu bolak balik buang-buang waktu pulang ke rumah si mbah.

Jadi bagaimana, tertarik menghabiskan liburan panjang anda? Tak perlu jauh-jauh ke Thailand untuk memanjati jalur panjat dalam jumlah banyak di tepian pantai karena kita punya tebing Siung yang menanti dieksplorasi. Selain murah, anda juga tentunya bisa berbagi rezeki dengan saudara-saudara kita di pedesaan. Selamat bertualang dan temukanlah hal-hal baru yang akan mewarnai hidup anda.

Desa Tongging Danau Toba. Matahari baru sepenggalan saat pesawat Hercules tinggal landas dari bandara Halim Perdanakusuma Jakarta Timur. Pesawat angkut yang sudah renta karena dibeli pada jaman Jendral M Jusuf itu penuh dengan penerbang gantole dan paralayang dengan tujuan akhir— Medan.

Desa Tongging Danau Toba

Sedikit Tentang Pesawat

Setelah transit di Padang dan sebelumnya berangkat dari Malang, pesawat dengan nomer A-1305 mendarat di Lanud Medan, rencana mengangkut penerbang paralayang asal Pekanbaru pun batal, kelebihan muatan menjadi alasan. Sedikit saja bercerita soal pesawat angkut berbadan bongsor ini kawan, semua pesawat buatan Lockheed Amerika yang dibeli oleh Jend. M Yusuf nomer serinya bila dijumlahkan nilainya pasti menjadi 9 dan inilah yang menjadi ciri khasnya. Berkat jasa Jendral asal Makassar ini Indonesia memiliki dua skuadron pesawat Hercules, di Lanud Halim Jakarta dan di Lanud Malang Jawa Timur.

Di Lanud Medan, dua kelompok penerbang berpisah. Gantole menuju Hutaginjang  sedangkan paralayang ke desa Tongging. Saya sendiri termasuk kelompok paralayan yang menuju ke desa Tongging yang terletak di kecamatan Merek kabupaten Karo Sumatera Utara. Setelah 4 jam perjalanan melalui Sibolga, keindahan dan kesederhanaan desa di tepian danau toba ini mampu menyihir mata dan memikat hati para penerbang.

Pemandangan Bukit Mauli – Desa Tongging

Kabut baru saja merambat naik, saat Dodo pilot asal Malang bersama kelompok penerbang pertama menginjakan kakinya di lokasi launching bukit mauli. Berdiri bersebelahan dengan air terjun si piso-piso, bukit Mauli memberikan panorama tak terbantahkan. “keren, keren banget… kalo begini bisa betah kita terbang di sini” begitu sahut-sahutan para penerbang di Handy Talkie.

Bukit dengan tinggi 1426 meter diatas permukaan laut ini memang ideal menjadi lokasi penerbangan. Dengan kemiringan yang cukup, angin yang mengalir tanpa hambatan di tengah-tengah pelukan bukit di kiri dan kanan, menjadikan payung anda mudah sekali mengembang dengan sempurna.

Terbang di Tongging juga sangat mengasyikan, meski hanya berjarak 1.8 km antara launching dan landing namun dengan beda ketinggian hingga 511 meter memberikan jarak yang cukup bagi setiap pilot untuk bermain. Bayangkan bukit gantole di puncak yang hanya 250 meter saja sejak dulu menjadi tempat favorit berlatih. Sedangkan di sini tingginya hampir dua kali lipatnya.

Rata-rata bila kita terbang biasa saja tanpa banyak usaha untuk mempertahankan ketinggian, setidaknya setiap penerbang bisa mengangkasa minimal10 -15 menit. Kereen kan?….

Pesona alam dan pemandangan danau yang indah perlu dukungan pemeliharaan oleh Kemenparekraf RI tentunya. Mari kita dukung bersama ya.

Dibuai Indahnya Alam Desa Tongging

Untuk lebih jelasnya berikut data lengkapnya, catat ya!

– Launching bukit mauli: 1426 m dpl, koordinat: N 02 54’ 25.8” E 098 31’ 01.2”

– Landing tepi danau toba, desa tongging dekat wisma Sibayak : 915 m dpl, koordinat : N 02 53’ 31.5” E 098 31’ 20.4

– Beda ketinggian: 511 meter.

– Jarak: 1.80 km

Bagaimana menuju ke Tongging?

Untuk menjangkau desa Tongging gampang aja kok. Dari Medan tinggal numpang BTN alias Bintang Tapian Nauli, dengan modal 25 ribu saja sepanjang jalan anda juga bisa merasakan sensasi naik angkutan khas Medan. Mulai duduk berdesakan di di dalam hingga duduk di atas atap bersama barang-barang bawaan penumpang, seperti tas hingga lemari. Hmmm, kebayang kan serunya?

Oh iya, di Tongging, ga cuman bukit Mauli saja yang bisa dijadikan tempat launching, bukit simalem apalagi bukit si piso-piso yang jauh lebih tinggi sangat bagus untuk lokasi penerbangan. Dengan beda ketinggian antara launching dan landing hampir 1000 meter  membuat penerbangan dari bukit sipiso-piso tentunya menjadi lebih mengasyikan namun sayang, saat kami mencoba ke sana, akses menuju lokasi tak dapat dilalui, licin karena semalam habis diguyur hujan.

Kampung Silahi Sabungan, Kampung Asal Muasal Marga Silalahi

Tak jauh dari desa Tongging, ada sebuah kampung bernama Silalahi. Terletak di kecamatan Silahi Sabungan, desa di pesisir danau Toba ini disebut-sebut sebagai tempat asal muasalnya orang batak bermarga Silalahi.

Untuk menghormati nenek moyang mereka, anak cucu bermarga Silalahi membangun tugu Silahi Sabungan. isinya tak hanya berhiaskan relief dan ukiran tentang kehidupan nenek moyang Silalahi ketika merintis hidup di pesisir danau Toba, dibawah bangunan ini juga terdapat tulang dan sisa peninggalan nenek moyang Silalahi.

Sebuah kejutan, ketika saya berkunjung ke kampung ini, tetua adat dan raja-raja turpuk melakukan upacara “mangulosi” atau memberikan ulos sebagai tanda bahwa saya menjadi bagian keluarga mereka. Dengan ulos itu secara otomatis saya pun berhak menyandang marga Silalahi, menjadi “zazang Silalahi”.

Oh iya, ngomong-ngomong soal ulos, kalo anda mencari ulos murah langsung dari perajinnya, ya di kampung silalahi ini salah satu tempatnya. Selain bertani, kaum ibu di kampung silalahi banyak menggantungkan hidup dengan membuat ulos. Motif ulos karo dan ulos Silalahi menjadi ciri khasnya.

Oh my God … naek bukit aja gak pernah, ini kok naek gunung semeru ??? Ya sudahlah tugas kantor musti aku yang berangkat … dan ternyata benarlah dugaanku … kawan kawan yang ikut menyertai dan membantu tanpa pamrih pada bengong mendengar ceritaku yang sama sekali nggak pernah naik gunung dan tiba tiba langsung begitu saja tanpa pelatihan fisik dan pengetahuan tentang gunung, main naek ke semeru.

puncak gunung semeru

Semula semua berjalan lancar … ranu pane, ranu kumbolo, kalimati, arcopodo… semua terlewati dengan mudah tralala … ya pastinya karena dorongan dari tim (mas tata, mas eko, mas chaidar, terutama mbak senny) dan bantuan dari teman pecinta alam TRAMP yang baik hati membawakan tas dan memasakkan makanan penuh gizi sepanjang hari, sehari 3 kali. Thaaaaanks berat.

Tapiiii begitu batas vegetasi … ow my God!!!! Sejauh mata memandang yang terlihat hanya pasir dan batu kerikil (bekas letusan semeru) …. Yoooi … jaraknya hingga ke puncak sih cuma 700 meteran … tapi men, 700 meter yang tanjakannya 75 – 80 derajat menukik. Ditambah pula medan pasir … walaah naek 5 langkah melorot 2 langkah… ha ha ha (mbah surip ketawa dah – gak mau disebut almarhum ah, karena jiwanya kan masih ada dihati kami)

Ampyuuuuun!!! 300 meter berlalu, air mata menetes sedikit, tiiiis … sambil bergumam dalam hati, “Bego banget, mau maunya aku disuruh kesini” … sambil paru paru memukul jantung … dug dug … beleduk … tapiii, malu ah kalau nyerah, karena mbak senny yang lagi sakit perut aja udah meninggalkanku sekitar 50 meter diatas. Yuuuuk mariii

Sambil dituntun teman dari TRAMP, 400 meter terlampaui … mak persediaan air habiiiiis!!! Sementara kerongkongan isinya udah debu semua … tiiiis … sekali lagi nangis sambil menghibur diri sok menatap keindahan tengger dari atas. Dan kalau ada yang bisa mendengarkan isi hatiku tuh, isinya begini, “Sial, kan harusnya yang kesini bukan aku!!! Iiiih,… mau maunya aku ke semeru”

500 meter akhirnya. Tapiiii kaki ini sudah enggak kuat. Tenggorokan mulai butuh air dan perut butuh makanan. Tiiiis … sekali lagi air mata menetes … hik hik sambil sesegukan, aku coba menghibur diri, “Yaaa… ayo bertahan… dikiiiit lagi kurang 50 meter doang nih”. Tapiiii,… kerongkonganku bener bener butuh air … dan thanks banget mas eko!!! Sekaleng susu beruang diberikan padaku utuh (padahal mas eko juga haus, tapi ia menyuruhku menghabiskan bersama mbak senny, dia gak mau… hiks mas eko berkorban buat aku) … sekali lagi aku terharu … disana susah, dia masih mau memberi yang ia sebetulnya juga sangat butuhkan.

Indahnya Pemandangan menuju ke Puncak Gunung Semeru

Tapi meski sudah menengak separoh kaleng susu beruang … sampailah juga aku dititik kaki sudah tak bisa diangkat lagi untuk melalui tanjakan naek 5 langkah melorot 2 langkah itu … yaaa salah satu faktornya, karena di semeru kita dikejar waktu … saat itu sudah pukul 09.30 … padahal pukul 10.00 gunung harus sudah bersih dari manusia, karena dikuatirkan gas beracun akan keluar pada jam tersebut.

So … aku menetapkan hati di titik itu “Aku nggak sanggup” … hik hik hik Di titik ini aku justru teringat akan novel sejati ‘Sky Burial’ tulisan Xin Ran. “Ow… ternyata seperti ini ya berada di padang pasir tanpa air dan tanpa tenaga” … aku pun makin kagum dengan ketegaran hati dari lakon utama novel yang diangkat dari kisah nyata itu.

Ya…. Memang sih kelihatannya cuma 50 meter … tapi tau nggak sih, dalam kondisi seperti ini 10 meter harus kutempuh dalam waktu 7 – 10 menit … jadi sudah enggak mungkin aku nyampai puncak dalam waktu 20 menit dan turun dalam 10 menit???

Karena kenyataannya, buat aku yang betul betul sudah kehabisan tenaga, turun sama beratnya dengan naik, bahkan bisa disebut lebih berbahaya. Sedikit gelundung (menggelinding), bisa saja terus gelundung tanpa arah dan akhirnya masuk jurang atau kebentur batu, JEDAAAAG!!! Teman teman yang sudah tidak tega melihatku dengan segala kerelaan menungguku yang berjalan lebih lambat dari keong.

Gunung Semeru mengajariku arti kata ‘Teman dan Jangan Menyerah’

3 kali aku mengucapkan pada andri teman dari TRAMP yang menjagaku itu, “Bolehkan aku nyerah?” … uuum … bener bener gak kuat … pantas yach banyak yang meninggal di semeru … ya karena memang tidak boleh ada kata menyerah disini …

Setiap kali aku mengucapkan kata kata itu, Andri menatapku seolah ingin menghantarkan energinya yang masih tersisa, “Sudah, kalau cape, istirahat dulu. Aku akan tunggu kamu sampai kamu siap melangkah lagi”. “Tapi aku sudah nggak kuat, bener”, jawabku putus asa dan berharap tidak merepotkan orang lain. Sungguh saat itu yang ada dipikiranku cuma, “Habis sudah, ini adalah hari terakhir kehidupanku”. Suweeeer, bener bener sudah nggak kuat.

Bisa dibayangkan. Saat itu aku berada diketinggian gunung semeru 3550 mdpl, itu artinya lebih dekat dengan matahari daripada di Surabaya. Panas banget karena dimana mana cuma pasir nggak ada pohon untuk berteduh. Ditambah, kerongkongan ini udah lengket, isinya pasir doang. Perut? apalagi? aku ini manusia cepat lapar, lapaar sekali. Diperparah pula dengan tenaga yang benar benar sudah di titik Nol. Kaki letoy, tangan lemas, mata mblaus (berkunang kunang).

Selain kata menyerah dan lebih dekat dengan kematian, harapanku hanya 1 dan itu sangat mustahil, “Andai helikopter bisa datang kemari, akan aku sewa dengan berapa tahun pun gajiku dan setelah ini sungguh aku nggak akan pernah mau naik Gunung tanpa persiapan. Mau itu yang nyuruh adalah The Big Bos atau ada si doi yang menawan hati terus mengajak berdua kesana … aaaagh makan tuh gunung. Aku mending di rumah aja nonton TV”.

Pelan… pelan … dan sangat pelan namun pasti. Andri terus memberiku dorongan dan membiarkan aku menggelindingkan tubuhku yang sudah tidak bertenaga, sementara dia seperti pemain ice hockey yang telah siap dengan stik nya mengejar lalu memberhentikan puck yang melesak kencang dan mengarahkannya ke tujuan sebenarnya, gawang.

Akhirnya, sampai juga ke bagian yang hijau. Setidaknya disini udara mulai sejuk karena banyak pohon rindang dan oksigen. Thanks God hanya itu yang terucap dari hatiku dan Thanks Andri merupakan satu satunya kata yang mampu kuucapkan. Akhirnya aku selamat sampai ke Kalimati, teruuuus turun sampai juga ke Ranu Pane dan bersiap untuk pulang ke Surabaya. Meski merupakan pengalaman yang menyeramkan, di ujung maut.

Indahnya negeri di atas awan, danau dan salju di Ranu Kumbolo

Tapi, pelajaran kudapat disini, jika kita putus asa, jangan menyerah, minimal tetaplah bertahan dan dalam hidup ini carilah teman yang bisa memberimu semangat, carilah lingkungan yang bisa membuatmu maju. Karena teman dan lingkungan benar benar berpengaruh terhadap jalan hidupmu kelak.

Coba, yang mendampingi aku bukan seseorang bermental seperti Andri, mungkin aku sudah ‘lewat’. Karena saat itu kondisiku benar benar habis. Nah dari sini pula aku bisa cerita apa aja sih yang menarik dari pendakian semeru?

Yang Menarik dari Perjalanan menuju Ke Puncak Mahameru

1. Selama Perjalanan dari Ranu Pane hingga Kalimati, pemandangan sangat indah.

2. Rasa Persaudaraan terpupuk

3. Merasakan jadi Bule sejenak, bobok dengan tenda diselimuti es (di Ranu Kumbolo dingin sekali, sampai sampai terdapat semacam salju … sebetulnya sih embun yang membeku). Dingiiiiiiin banget

4. Merasakan makan khas suku Tengger yang nyam nyam banget, enak

Yang Mesti dilakukan sebelum Naik ke Puncak Mahameru

1. Naik Gunung yang lebih kecil terlebih dahulu (latihan)

2. Latihan Fisik paling nggak jogging setiap pagi selama 2 bulan

3. Bawa Baju yang Hangat dan Sleeping Bag yang hangat, kalau bisa dari bulu angsa

4. Bawa Madu dan makanan mengenyangkan namun tidak besar atau tidak berat untuk dibawa

5. Bawa Tissue Basah dan Tissue Kering

6. Gunakan sepatu yang kuat/ memang untuk pendakian

7. Pisau lipat juga sewaktu waktu dibutuhkan dan senter/ sentolop (bahasa Jawa) jangan pernah lupa + dengan baterainya

8. Kamera foto dong buat narsis narsisan heheheee