Oh my God … naek bukit aja gak pernah, ini kok naek gunung semeru ??? Ya sudahlah tugas kantor musti aku yang berangkat … dan ternyata benarlah dugaanku … kawan kawan yang ikut menyertai dan membantu tanpa pamrih pada bengong mendengar ceritaku yang sama sekali nggak pernah naik gunung dan tiba tiba langsung begitu saja tanpa pelatihan fisik dan pengetahuan tentang gunung, main naek ke semeru.

puncak gunung semeru

Semula semua berjalan lancar … ranu pane, ranu kumbolo, kalimati, arcopodo… semua terlewati dengan mudah tralala … ya pastinya karena dorongan dari tim (mas tata, mas eko, mas chaidar, terutama mbak senny) dan bantuan dari teman pecinta alam TRAMP yang baik hati membawakan tas dan memasakkan makanan penuh gizi sepanjang hari, sehari 3 kali. Thaaaaanks berat.

Tapiiii begitu batas vegetasi … ow my God!!!! Sejauh mata memandang yang terlihat hanya pasir dan batu kerikil (bekas letusan semeru) …. Yoooi … jaraknya hingga ke puncak sih cuma 700 meteran … tapi men, 700 meter yang tanjakannya 75 – 80 derajat menukik. Ditambah pula medan pasir … walaah naek 5 langkah melorot 2 langkah… ha ha ha (mbah surip ketawa dah – gak mau disebut almarhum ah, karena jiwanya kan masih ada dihati kami)

Ampyuuuuun!!! 300 meter berlalu, air mata menetes sedikit, tiiiis … sambil bergumam dalam hati, “Bego banget, mau maunya aku disuruh kesini” … sambil paru paru memukul jantung … dug dug … beleduk … tapiii, malu ah kalau nyerah, karena mbak senny yang lagi sakit perut aja udah meninggalkanku sekitar 50 meter diatas. Yuuuuk mariii

Sambil dituntun teman dari TRAMP, 400 meter terlampaui … mak persediaan air habiiiiis!!! Sementara kerongkongan isinya udah debu semua … tiiiis … sekali lagi nangis sambil menghibur diri sok menatap keindahan tengger dari atas. Dan kalau ada yang bisa mendengarkan isi hatiku tuh, isinya begini, “Sial, kan harusnya yang kesini bukan aku!!! Iiiih,… mau maunya aku ke semeru”

500 meter akhirnya. Tapiiii kaki ini sudah enggak kuat. Tenggorokan mulai butuh air dan perut butuh makanan. Tiiiis … sekali lagi air mata menetes … hik hik sambil sesegukan, aku coba menghibur diri, “Yaaa… ayo bertahan… dikiiiit lagi kurang 50 meter doang nih”. Tapiiii,… kerongkonganku bener bener butuh air … dan thanks banget mas eko!!! Sekaleng susu beruang diberikan padaku utuh (padahal mas eko juga haus, tapi ia menyuruhku menghabiskan bersama mbak senny, dia gak mau… hiks mas eko berkorban buat aku) … sekali lagi aku terharu … disana susah, dia masih mau memberi yang ia sebetulnya juga sangat butuhkan.

Indahnya Pemandangan menuju ke Puncak Gunung Semeru

Tapi meski sudah menengak separoh kaleng susu beruang … sampailah juga aku dititik kaki sudah tak bisa diangkat lagi untuk melalui tanjakan naek 5 langkah melorot 2 langkah itu … yaaa salah satu faktornya, karena di semeru kita dikejar waktu … saat itu sudah pukul 09.30 … padahal pukul 10.00 gunung harus sudah bersih dari manusia, karena dikuatirkan gas beracun akan keluar pada jam tersebut.

So … aku menetapkan hati di titik itu “Aku nggak sanggup” … hik hik hik Di titik ini aku justru teringat akan novel sejati ‘Sky Burial’ tulisan Xin Ran. “Ow… ternyata seperti ini ya berada di padang pasir tanpa air dan tanpa tenaga” … aku pun makin kagum dengan ketegaran hati dari lakon utama novel yang diangkat dari kisah nyata itu.

Ya…. Memang sih kelihatannya cuma 50 meter … tapi tau nggak sih, dalam kondisi seperti ini 10 meter harus kutempuh dalam waktu 7 – 10 menit … jadi sudah enggak mungkin aku nyampai puncak dalam waktu 20 menit dan turun dalam 10 menit???

Karena kenyataannya, buat aku yang betul betul sudah kehabisan tenaga, turun sama beratnya dengan naik, bahkan bisa disebut lebih berbahaya. Sedikit gelundung (menggelinding), bisa saja terus gelundung tanpa arah dan akhirnya masuk jurang atau kebentur batu, JEDAAAAG!!! Teman teman yang sudah tidak tega melihatku dengan segala kerelaan menungguku yang berjalan lebih lambat dari keong.

Gunung Semeru mengajariku arti kata ‘Teman dan Jangan Menyerah’

3 kali aku mengucapkan pada andri teman dari TRAMP yang menjagaku itu, “Bolehkan aku nyerah?” … uuum … bener bener gak kuat … pantas yach banyak yang meninggal di semeru … ya karena memang tidak boleh ada kata menyerah disini …

Setiap kali aku mengucapkan kata kata itu, Andri menatapku seolah ingin menghantarkan energinya yang masih tersisa, “Sudah, kalau cape, istirahat dulu. Aku akan tunggu kamu sampai kamu siap melangkah lagi”. “Tapi aku sudah nggak kuat, bener”, jawabku putus asa dan berharap tidak merepotkan orang lain. Sungguh saat itu yang ada dipikiranku cuma, “Habis sudah, ini adalah hari terakhir kehidupanku”. Suweeeer, bener bener sudah nggak kuat.

Bisa dibayangkan. Saat itu aku berada diketinggian gunung semeru 3550 mdpl, itu artinya lebih dekat dengan matahari daripada di Surabaya. Panas banget karena dimana mana cuma pasir nggak ada pohon untuk berteduh. Ditambah, kerongkongan ini udah lengket, isinya pasir doang. Perut? apalagi? aku ini manusia cepat lapar, lapaar sekali. Diperparah pula dengan tenaga yang benar benar sudah di titik Nol. Kaki letoy, tangan lemas, mata mblaus (berkunang kunang).

Selain kata menyerah dan lebih dekat dengan kematian, harapanku hanya 1 dan itu sangat mustahil, “Andai helikopter bisa datang kemari, akan aku sewa dengan berapa tahun pun gajiku dan setelah ini sungguh aku nggak akan pernah mau naik Gunung tanpa persiapan. Mau itu yang nyuruh adalah The Big Bos atau ada si doi yang menawan hati terus mengajak berdua kesana … aaaagh makan tuh gunung. Aku mending di rumah aja nonton TV”.

Pelan… pelan … dan sangat pelan namun pasti. Andri terus memberiku dorongan dan membiarkan aku menggelindingkan tubuhku yang sudah tidak bertenaga, sementara dia seperti pemain ice hockey yang telah siap dengan stik nya mengejar lalu memberhentikan puck yang melesak kencang dan mengarahkannya ke tujuan sebenarnya, gawang.

Akhirnya, sampai juga ke bagian yang hijau. Setidaknya disini udara mulai sejuk karena banyak pohon rindang dan oksigen. Thanks God hanya itu yang terucap dari hatiku dan Thanks Andri merupakan satu satunya kata yang mampu kuucapkan. Akhirnya aku selamat sampai ke Kalimati, teruuuus turun sampai juga ke Ranu Pane dan bersiap untuk pulang ke Surabaya. Meski merupakan pengalaman yang menyeramkan, di ujung maut.

Indahnya negeri di atas awan, danau dan salju di Ranu Kumbolo

Tapi, pelajaran kudapat disini, jika kita putus asa, jangan menyerah, minimal tetaplah bertahan dan dalam hidup ini carilah teman yang bisa memberimu semangat, carilah lingkungan yang bisa membuatmu maju. Karena teman dan lingkungan benar benar berpengaruh terhadap jalan hidupmu kelak.

Coba, yang mendampingi aku bukan seseorang bermental seperti Andri, mungkin aku sudah ‘lewat’. Karena saat itu kondisiku benar benar habis. Nah dari sini pula aku bisa cerita apa aja sih yang menarik dari pendakian semeru?

Yang Menarik dari Perjalanan menuju Ke Puncak Mahameru

1. Selama Perjalanan dari Ranu Pane hingga Kalimati, pemandangan sangat indah.

2. Rasa Persaudaraan terpupuk

3. Merasakan jadi Bule sejenak, bobok dengan tenda diselimuti es (di Ranu Kumbolo dingin sekali, sampai sampai terdapat semacam salju … sebetulnya sih embun yang membeku). Dingiiiiiiin banget

4. Merasakan makan khas suku Tengger yang nyam nyam banget, enak

Yang Mesti dilakukan sebelum Naik ke Puncak Mahameru

1. Naik Gunung yang lebih kecil terlebih dahulu (latihan)

2. Latihan Fisik paling nggak jogging setiap pagi selama 2 bulan

3. Bawa Baju yang Hangat dan Sleeping Bag yang hangat, kalau bisa dari bulu angsa

4. Bawa Madu dan makanan mengenyangkan namun tidak besar atau tidak berat untuk dibawa

5. Bawa Tissue Basah dan Tissue Kering

6. Gunakan sepatu yang kuat/ memang untuk pendakian

7. Pisau lipat juga sewaktu waktu dibutuhkan dan senter/ sentolop (bahasa Jawa) jangan pernah lupa + dengan baterainya

8. Kamera foto dong buat narsis narsisan heheheee

Halo guys kali ini aku bakal review beberapa Kuliner Sop Buntut IGA Konro JAKARTA yang paling top dan populer di kalangan penikmat kuliner sop yang menggiurkan. Pengalaman ini aku rangkum buat kamu yang mau tau referensi menikmati kuliner dengan daging dan kuah yang sungguh menggiurkan.

kuliner sop iga buntut Jakarta

Kuliner Sop buntut cut mutia. Jl.Menteng Kecil I Jakarta Pusat.

Niiii daging buntutnya, walaaaah empuuuuuk setengah jaman. Dagingnya masih kemerah – merahan gitu, tampilan yang segar … begitu digigit sari pati daging itu langsung melekat erat dilidah … apalagi dagingnya gendut gendut, jadinya guriiiih kres kres enak banget. Rekomendasi banget deee sop buntut yang satu ini. Meski warungnya keciiiil begini bahkan persisnya mepet tembok sebelah, banyak menteri yang langganan di sini looo, tapi aku lupa sapa aja. Yaaa meski aku kurang setuju dengan standart kuahnya yang menurutku terlalu asin. Tapiiii ini bukan masalah, karena dagingnya ueeenak dan begitu kuahnya di sepyur ke nasi yang tentunya tawar, jadi enggak terlalu asin kok…. Mantaaaab. Um, lupa kalau gak salah harganya 23 ribuan seporsi.

Dapur Buntut. Jl. KH. Abdullah Syafei No 50D

Naaaa ini buat yang suka tantangan, boleh banget dicoba. Dan kalau denger nama caramel, jangan dibayangkan anda akan memakan sesuatu yang teramat manis, karena caramel nya justru berasa pedas, yuuuuk mari, pedas lada hitam. Jadi kalau makan buntut yang satu ini kayak lagi makan steak. Dagingnya empuuuuuk, apalagi kalau anda pesen yang tulang lunak. Waaaa ini beneran aku gak bohong, tulangnya bener bener bisa dimakan. Waktu makan itu, mangkukku bener bener bersih, karena kuahnya juga lumayan enak buat diseruput gitu aja. Harga sekitar 23 ribuan juga.

Kuliner Sop buntut Borobudur. Pujasera Pasaraya Blok M dan Hotel Borobudur

Sop ini sebenernya enak banget, tapi harganya itu looo … mahal booo, waktu itu aku makan yang di pasar raya blok M, habis sekitar 70 ribuan (sop, nasi dan teh botol). Tapi dagingnya emang mantab, kuahnya juga enyak … yaaaa buat yang lagi lebih duit, boleh laaah hehehee.. sop buntut Borobudur ini juga menjadi kesukaannya bos bos dan aparatur Negara yang berduit tebaaal. Yang pasti makan di Buntut Borobudur, nggak akan kecewa dengan rasa, enaaaak banget!!!

RUMAH MAKAN BERKAH MPOK ATIK. Jl. Jeruk purut no 22 – Jakarta selatan.

Waaaa penggila sop daging, harus kesini. Uuuueeenak gila. Okenya lagi, mpok atik ini memasak sama sekali enggak pake msg, jadi sehat gitu deee ceritanya. Buat aku, aku suka makan disini karena dagingnya jumbo gila, empuk edan, gurih asik dan kuahnya bikin badan jadi seger!!!! Kaldu sapinya itu looo gak nahan… ringan yang membuat aku selalu menyeruput kuahnya sampe mangkuk bersih. Dagingnya juga warnanya masih seger gitu masih kemerah – merahan. Oya, kalau kesini jangan pas makan siang deeee… rame banget, apalagi kalau habis sholat jumat (lokasinya disebelah masjid gedung ratu prabu situ) waduuuuuu bisa ngantri…. Tapi meski ngatri, gak terlalu lama sih, karena selain pelayanan cepet, orang orang yang makan mayoritas adalah pekerja yang kudu balik karena pekerjaan udah menanti di kantor.

SOP SUM SUM BLORA REMAJA. JL. Panglima polim raya 62 blok a Jakarta selatan

Satu lagi sop unik yang asyik. Jadi kalau makan sum sum biasanya tinggal nyedok, laaa yang ini beda. Jadi makannya pake sedotan. Langsung dari tulang sum sum kambingnya. Soal rasa??? Jangan Tanya deeee… mantab. Meski kambing, tapi sama sekali gak ada bau prengus. Yaaa mungkin karena bumbunya tepat dan pengolahan juga benar. Oya tapi kalau pengen makan sop sum sum nya, lebih baik datangnya jangan malam malam. Karena cepet habis. Yaaa kalau udah habis, paling pilihan lainnya ya sate dan sop kambing tanpa sumsum… seporsi kelezataannya hanya diharga 10 ribu rupiah.

SOP DAN SATE KIM TEK. Jl arteri kelapa dua no 64H Jakarta barat.

Ini dia sate langganannya trah cendana, khususnya pak bambang tri dan mbak mayang sari kalau ke Jakarta. Pilihannya beragam banget euy. Semua bagian kambing dijadikan sate disini. Ada sate torpedo, usus bahkan sate buntut kambing. Waktu itu aku nyobain, edaaaan … satenya enak banget. Baru kali ini saya makan sate sampe mabok. (mabok beneran, kepala pusing sampe ngeliat benda itu ada dua semuanya, demikian juga dengan ke 3 kawannya lainnya yang juga ikut makan). Siiiip… Wallllaaaah kita pada celeng too … sampe sampe kawan aku yang tukang ngeganja bilang “aduuuu ini lebih oke dari cimeng … gileee pusing banget” (untung sekarang dia udah gak nyimeng lagi, mungkin udah ketemu sama yang lebih dahyat kali yach hahaa).

Luar biasa… begini yach kalau makan kambing yang bener bener berkualitas dan pilihan, dikit aja, langsung celeeeng…. Tapi ueeeenak… kuah sopnya juga sueger … seger bin mantab, penyuka kambing tampaknya mesti kemari. yaaa kalau gak enak mana bisa jadi langganan orang orang gede termasuk pak bambang tri toooo???

KULINER SOP IGA di WARUNG ANGLO, Jl. Bulungan 26 Kebayoran Jakarta Selatan.

Ini juga merupakan salah satu rumah makan yang menyediakan Sop Iga yang menurutku enak … pertama tentu karena dagingnya empuuuuuks banget … kedua kuahnya seger ada tomat chung nya loo, jadi tambah seger … dan ketiga nggak terlalu asin, jadi penikmat masakan asin tinggal tambah sedikit garam dan jeruk, sedangkan yang gak suka asin pun bisa makan …